A History of Violence – Dua Rupa Kekerasan (Kekerasan Sebagai Solusi & Masalah)

Picture2.png

MOVIE DETAIL

Director: David Cronenberg . Writers: John Wagner & Vince Locke(graphic novel),Josh Olson . Stars: Viggo Mortensen, Maria Bello, Ed Harris. Durasi: 96 minutes . Year: 2005.

OSCAR 

2 Nominasi:

– Best Performance by an Actor in a Supporting Role (William Hurt )

– Best Writing, Adapted Screenplay (Josh Olson)

TRAILER

PLOT

Film dibuka dengan dua tokoh pria yang baru saja mau check out dari motel,
dari tampilannya keduanya mengingatkan saya kepada Duo Gecko (From Dusk till Dawn),
yang benar saja ketika keduanya meninggalkan tempat tersebut, motel tsb menjadi
tanpa penghuni (if you know what i mean).

Film berlanjut dengan pengenalan tokoh utama, Tom Stall (Viggo Mortensen) adalah pria paruh baya yang hidup tenang dengan keluarga kecilnya. Dirinya adalah pemilik dari warung kopi & pie di tengah kota,
dia tinggal bersama istrinya, Eddie(Maria Bello) dan putra serta putrinya, Jack Stall (Ashton Holmes)& Sarah Stall (Heidi Hayes). Eddie meski sudah 15 tahun menikah dengan Tom, namun tetap merasa awet muda dan mencintai Tom dengan sepenuh hati.

A History of Violence (1).jpg

Kehidupan tenang Tom berubah 180 derajat ketika suatu malam dirinya sedang bersiap
untuk tutup warung bersama 2 karyawannya dipaksa berurusan dengan dua orang yang mencoba merampok warungnya, Tom bergerak cepat dan mampu melumpuhkan kedua perampok tersebut yang tidak lain adalah 2 orang yang ada di awal film. Aksi Tom membunuh 2 orang yang mengancam hidupnya membuat dia seketika menjadi media sirkus dan menjadi pahlawan daerah.
Meski Tom tidak tertarik dengan hal ini, namun ini berdampak pada kehidupannya yang tenang mulai terusik. Suatu hari orang asing yang mengaku bernama Fogarty (Ed Harris) mendatangi Tom dan mengatakan bahwa Tom adalah seorang yang dikenal dengan nama “Joey Cussack”.

Siapakah Fogarty, apa hubungannya dengan Joey dan benarkah Tom mengenal Joey, lalu
siapakah Richie Cussack, ada apa dengan Philadelphia?

MY OPINION

A History of Violence (5).jpg

Bukan film David Cronenberg pertama yang kulihat, Eastern Promises (2007) adalah yang pertama. Sedikit banyak sudah mengenal bagaimana style Cronenberg menyampaikan pesannya lewat film. Cronenberg tidak pernah sungkan sungkan dan setengah2 dalam penyajian, baik kekerasan maupun hubungan seksual dalam filmnya [masih ingat bagaimana kita dibuat ngilu dengan kekerasan di tempat pemandian dalam Eastern Promises atau bagaimana Viggo dipaksa Vincent berhubungan seksual hanya agar dia yakin bahwa Viggo bukan Homo]. Sama-sama diangkat dari graphic novel dengan The Punisher (2004) dan Road to Perdition (2002) dengan tema dan jalan cerita yang meski tidak sama persis tapi secara umum sama,menampilkan kekerasan dan peluru2 berhamburan.

Film ini mengajak kita berpikir akan hakikat dari kekerasan, tentunya perspektif
setiap orang berbeda, banyak hal yang melatarbelakanginya misalnya pengalaman, pemahaman, dan latar belakang. Tapi kali ini saya akan mengajak anda untuk menilai pendekatan film ini dengan sejarah Amerika yang dibangun dengan senjata. Senjata semenjak jaman dahulu menjadi alat bagi kekerasan pendatang dari Eropa untuk menguasai tanah jajahannya, Amerika. Maka wajar hingga kini senjata menjadi hal lumrah bagi masyarakat Amerika, termasuk warga sipil. Jadi jangan kaget
ketika senat Amerika saja terbagi dua antara mendukung penggunaan senjata oleh sipil, serta  mendukung pengaturan penggunaan senjata oleh sipil. Senjata [dan kekerasan] tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sejarah Amerika. Lihatlah film2 koboi yang mengeksploitasi senjata sebagai alat mencari kemenangan/ bertahan hidup.

Picture1.png

Ini pula yang menjadi topik utama dari A History of Violence. Film yang dengan teguh dan konsisten menfokuskan diri pada karakter Tom Stall yang berjuang lari dari kekerasan dengan jalan kekerasan. Ketika kekerasan menjadi solusi dari setiap karakter yang dihadirkan. Dua karakter yang tampil pertama menggunakan kekerasan untuk mendapatkan tempat tinggal dan makanan/ minuman, Tom menggunakan kekerasan untuk dapat mempertahankan keluarganya [dan karyawannya], Jack menggunakan kekerasan untuk bertahan dari ancaman [bully] dari teman temannya, Eddie juga menggunakan kekerasan untuk melindungi ancaman atas Sarah. Kekerasan seolah menjadi solusi yang dianggap normal ketika keadaan memaksa setiap karakter
untuk meraih apa yang mereka inginkan [food, water, shelter, rasa aman dll]. Namun sejatinya kekerasan memiliki dua mata koin, dimana setiap kekerasan yang dilakukan justru menjadi awal dari masalah.

Apa yang Tom lakukan di warung untuk mempertahankan diri justru membuka jatidirinya yang sebenarnya, ini kontras dengan apa yang ingin dia ajarkan kepada Jack bahwa bully tidak perlu ditanggapi dengan kekerasan. Namun buah jatuh tidak jatuh jauh dari pohonnya, Jack meniru apa yang ayahnya contohkan sehingga seluruh keluarga ini mengalami turbulensi kehidupan yang berat karena pendekatan kekerasan
yang mereka lakukan. Pada akhirnya benar atau tidaknya suatu kekerasan digunakan tidaklah penting lagi karena pada dasarnya setiap manusia menggunakan cara2 mereka sendiri untuk dapat mencapai apa yang mereka mau, begitupun dengana masyarakat Amerika pada umumnya, dan akhirnya hukum lah yang akan mengikuti
manusia bukan sebaliknya.

DID YOU KNOW?

Film ini diangkat dari graphic  novel karya  John Wagner dan Vince Locke.

250px-Histvio.jpg

THE INTERVIEW

FILM SERUPA

PARENTAL GUIDE FOR THIS MOVIE

Rating_R_Restricted_Remaja 17+ & Dewasa