Wendy and Lucy (2008), Sindiran Terhadap Kaum Urban Amerika Masa Kini

MOVIE DETAIL

Wendy and Lucy (6)

On the long road, friendship is everything.

Director: Kelly Reichardt.Writers: Jonathan Raymond & Kelly Reichardt .

Stars: Michelle Williams, Lucy.Durasi: 80 minutes .Year: 2008.

OSCAR 

– No Oscar.

PLOT

Apa hal yang paling berharga dalam hidupmu? bagi pesepakbola pastinya kaki mereka, bagi pebisnis, bisnis mereka, bagi banyak orang jawabannya pasti beragam, seperti orangtua, keluarga, uang, pekerjaan, teman, pasangan dan seterusnya. Tapi bagi seorang Wendy Carroll(Michelle Williams) hal yang paling berharga baginya adalah anjingnya(Lucy), baginya Lucy adalah lebih dari sekadar anjing biasa. Lucy adalah teman berbagi suka dan duka, serta mencurahkan seluruh kasih sayangnya.

Film ini adalah sindiran bagi kaum urban di Amerika khususnya dan di seluruh kota di dunia pada umumnya. Ketika kehidupan hedonis serta nilai-nilai luhur telah lenyap dan hampir punah. Nilai akan toleransi, kasih sayang, saling menhargai, saling menolong, kejujuran, kebersamaan, kekeluargaan telah hampir punah saat ini. Sudah bukan hal aneh lagi jika kakak-adik, anak-orangtua saling jauh. Bahkan kasus heboh terakhir di negeri tercinta ini adalah seorang anak bahkan tega untuk menuntut sang ibu atas permasalahan harta hingga ke meja hijau. Ada lagi kisah seorang nenek yang dipenjarakan dan diputus bersalah hanya karena memungut kayu kecil.

Okelah, sekarang kita kembali fokus ke film ini, Wendy, adalah gadis yang berencana pergi dari Indiana, AS ke Alaska(sekitar 5.000KM sekedar perbandingan, Robyn Davidson menempuh +/- 2.700 KM) dari tempat tinggalnya untuk bermaksud mendapatkan penghidupan yang lebih baik di sana.Sebab dia mendengar bahwa di sana ada lowongan pekerjaan di tempat pengalengan ikan, Wendy berharap mendapatkan pekerjaan tersebut.

Wendy ditemani Lucy pergi menggunakan mobil Toyota tuanya. Dengan dana yang serba terbatas, Wendy harus pandai pandai untuk berhemat dalam segala pengeluaran.

Segalanya berjalan lancar hingga Wendy tiba di Oregon, AS. Kejadian bermula saat pagi hari dia diminta menyingkir oleh seorang petugas parkir tua/ sekuriti (Walter Dalton). Wendy dirasa sudah parkir di tempat yang salah. Wendy yang baru saja terbangun seolah memulai hari dengan cara yang sangat buruk. Permasalahan menjadi sedikit lebih serius ketika mobil tua Wendy tidak dapat menyala. Terpaksa Wendy dan pria tua tersebut mendorong mobil tersebut hingga cukup jauh dari tempat yang dilarang untuk parkir.

You can’t get a address without an address. You can’t get a job without a job.

(Sekuriti Tua)

Merasa perlu untuk membeli makanan anjing, Wendy mencoba untuk mencari kaleng bekas dan menjualnya ke tempat penjualan kaleng bekas. Sayang seribu sayang, Wendy mendapati tempat tersebut antriannya penuh. Wendy yang hanya memiliki sejumlah kecil kaleng bekas merasa hanya buang buang waktu menunggu antrian. Salah seorang pria cacat di tempat tersebut yang juga sedang mengantri menawarkan untuk Wendy menitipkan kalengnya saja padanya, tapi Wendy justru memilih untuk memberikan cuma cuma kaleng-kalengnya pada pria tersebut.

Wendy kemudian segera menuju ke Toko untuk mencari makanan bagi Lucy. Sementara Lucy diikat di depan toko. Wendy yang memang tidak membawa banyak uang akhirnya memutuskan untuk mengutil barang di toko tersebut. Saat akan keluar toko, dia ditangkap salah seorang petugas toko, Andy(John Robinson). Andy langsung membawa Wendy kepada atasannya, Mr. Hunt (John Breen). Ketika diinterogasi, Wendy mengatakan bahwa dirinya tidak mencuri makanan anjing tersebut, dia hanya mau keluar sebentar untuk mengecek Lucy. Tapi Andy bersikeras bahwa Wendy harus dihukum sesuai peraturan yang berlaku. Alhasil sang atasan terpaksa untuk menegakkan aturan. Wendy dibawa ke pihak yang berwajib, meninggalkan Lucy sendirian di depan toko.

Karena kasus itu Wendy terpaksa harus menghabiskan setengah harinya di kantor kepolisian. Dia bahkan terpaksa harus membuka celengannya 🙂 untuk membayar jaminan supaya bisa lolos dari jeratan hukum. Alhasil Wendy kembali dalam keadaan capek, habis uang, tapi satu hal yang ada di dalam pikirannya adalah keadaan Lucy.

Benar saja , sekembalinya dari kantor polisi, Lucy menghilang. Wendy berputar putar untuk mencari Lucy namun usahanya nihil tanpa hasil. Termasuk ketika menanyai kedua wanita penjaga toko, keduanya justru memberikan informasi yang simpang siur akan keadaan Wendy saat menghilang.

Wendy yang cepat berkawan dengan petugas sekuriti tua di awal film segera menanyakan dimana dia dapat menemukan tempat penjara anjing(Pound) di daerah situ. Si sekuriti tua segera menunjukkan tempat tersebut. Tapi berhubung hari sudah gelap Wendy disarankan untuk bermalam di hotel dan kembali ke sana pada pagi harinya. Wendy yang kehabisan uang, memutuskan untuk tidur di dalam mobilnya malam itu.

Pagi harinya dia mendatangi salah satu bengkel di ujung jalan, di sana dia mendapati kenyataan bahwa mobil tuanya sudah rusak parah dan biaya perbaikan sangat besar. Wendy memutuskan untuk menjual mobil tersebut untuk uang seadanya.

Perjalanan selanjutnya adalah ke tempat penjara anjing. Setelah melakukan pengecekan di data anjing dan melihat di dalam penjara, Wendy kecewa berat karena dia tidak mendapati Lucy di sana. Wendy kemudian meminta kepada pihak penjara anjing untuk terus berusaha.

Pencarian Wendy akan Lucy terus berlanjut, namun tiada hasil. Wendy memutuskan menelepon kakaknya, Deb(Deirdre O’Connell)yang ada di luar kota. Ternyata sambutan dari kakaknya dan suaminya tidak terlalu positif, kakaknya justru beranggapan bahwa Wendy menelepon karena ingin menyusahkan mereka, padahal Wendy hanya perlu teman ngobrol dan berkeluh kesah.

Wendy lalu kembali ke tempat parkir dan meminjam telepon si sekuriti tua untuk menelepon tempat penjara anjing, dengan dugaan jika Lucy sudah ditemukan, ternyata hasilnya negatif.

Malam itu Wendy terpaksa harus bermalam di tengah hutan karena mobilnya sudah dijual di bengkel. Kejadian menegangkan terjadi ketika Wendy yang sendirian tengah tidur di hutan didatangi seorang pria gelandangan yang mengambil barangnya. Wendy ketakutan setengah mati dan segera melarikan diri ke pom bensin. Di sana dia menenangkan diri.

Esok paginya dia kembali meminjam handphone si sekuriti tua untuk menanyakan kabar Lucy, ternyata Lucy sudah ditemukan. Wendy segera bergegas ke bengkel mobil untuk meminta uang penjualan mobilnya. Kemudian dia pergi ke penjara anjing untuk menanyakan Lucy. Lucy ternyata sudah diketahui dibawa pergi oleh seseorang. Wendy segera bersiap untuk menuju alamat orang tersebut.

Sebelumnya dia pergi ke tempat parkir untuk menemui si sekuriti tua untuk menyampaikan terima kasih dan berpamitan. Si sekuriti tua yang memang hari tersebut tidak bekerja, datang bersama istrinya dengan mobil, sementara istrinya menunggu di dalam mobil, si sekuriti tua menemui Wendy. Wendy diberi uang secukupnya untuk biaya perjalanan, kemudian keduanya segera berpisah.

Alangkah bahagianya Wendy ketika bertemu kembali dengan Lucy di rumah orang yang disebutkan tadi. Keceriaan jelas terpancar dalam wajah Wendy. Tapi sayang sebab Lucy ada di balik kerangkeng. Untuk menebus Lucy, Wendy terpaksa harus melanjutkan perjalanannya sendirian dahulu untuk kemudian mencari uang dan menebus Lucy dari pria yang menahannya.

Wendy and Lucy (1)

Wendy and Lucy (2)

Wendy and Lucy (4)

Wendy and Lucy (8)

Wendy and Lucy (10)

Wendy and Lucy (11)

Wendy and Lucy (13)

Wendy and Lucy (14)

Wendy and Lucy (15)

Wendy and Lucy (17)

Wendy and Lucy (18)

Wendy and Lucy (19)

Wendy and Lucy (20)

Wendy and Lucy (21)

Wendy and Lucy (22)

Wendy and Lucy (23)

Wendy and Lucy (24)

Wendy and Lucy (26)

Wendy and Lucy (28)

Wendy and Lucy (30)

LIFE LESSONS

If you need a relationship, get a dog!

(November Man(2014- Pierce Brosnan)

DID YOU KNOW?

Wendy and Lucy (29)

No Doubt 🙂

 – Michelle Williams “terlalu cantik” untuk memerankan Wendy, hingga dirinya perlu untuk sedikit tampil berantakan demi peran tersebut. Kabarnya Nona Williams terpaksa tidak keramas hingga 2 minggu untuk peran ini ;(.

– Film ini mendapakan ulasan yang positif dari para kritikus di luar sana, bahkan banya kritikus menobatkan film ini dalam list 10 film paling bagus di 2008.

THE INTERVIEW

PARENTAL GUIDE FOR THIS MOVIE

Wendy and Lucy (16)

Sex scene: No. Gay/ Lesbian: No. Violence Scene: No. Smoking Scene: No. Drugs Scene: No. Alcohol Drinking: No. Profanity, ada satu dua umpatan dalam bahasa inggris: No . Gore Scene: No.

OVERALL: 17+(remaja & dewasa)

* Di luar negeri film ini dirating untuk anak anak menonton di bawah panduan orang tua, sebab di dalamnya berisikan scene akan seseorang yang kesepian dan nelangsa, ini dipandang kurang tepat bagi anak anak karena bisa berpengaruh pada cara pandang mereka akan kehidupan pada umumnya.

MY OPINION

Film independent selalu menyajikan sesuatu yang baru, berani dan berbeda. Tentu saja ini karena pengaruh dari pemilik modal, rumah produksi dsb tidak sekuat film komersial, yang lebih mengutamakan fulus daripada sebagai penyampaian ide. Saya jadi ingat ketika Hitchcock dalam Hitchcock(2008) mengatakan bahwa dirinya saat itu sudah jenuh untuk terus mengikuti keinginan pasar/ masyarakat penonton film dan tekanan dari petinggi rumah produksi dalam mengekang ide idenya. Nah ini tidak termasuk film absurd terakhir yang saya tonton, El Topo(1970)/ The Mole karya Alejandro Jodorowsky, film independent ini sungguh absurd dan enek ditonton, kapan-kapan akan saya bahas di posting tersendiri.

Diangkat dari cerita pendek “Train Choir” garapan Jon Raymond, film ini adalah sebuah pertunjukan 80 menit dari seorang Michelle Williams sendirian. Dia berhasil untuk mendalami karakter Wendy yang kesepian serta terasingkan.  Michelle Williams berhasil menghadirkan naik turun emosi Wendy, dari kegirangan, ketakutan, kecemasan, frustasi hingga harapan. Karakter Wendy hampir serupa dengan karakter Robyn Davidson (diperankan oleh aktris kesukaan saya pula, Mia Wasikowska) di film Tracks(2013), yang menembus ganasnya bentangan alam australia hanya bertemankan unta untanya. Namun penampilan Michelle menurutku sedikit di atas Mia Wasikowska.

Durasi film yang sebentar, karakter yang terbatas, cerita yang simple, bahkan nyaris tanpa tambahan sound, namun dengan pesan yang kuat. Film ini adalah kritikan sosial kepada masyarakat urban saat ini, Wendy terlihat sangat terasing di dunianya. Dan ketika ada orang yang hadir dalam kehidupannya mereka seperti lalu saja, bahkan keluarga sekalipun tampak bukan saudara lagi. Begitu pula ketika dihadapkan pada masalah, banyak orang yang tidak peduli, egois pada urusan mereka masing masing, namun adakalanya ada saja orang yang berbuat baik di tengah masyarakat seperti itu, ini digambarkan sesosok sekuriti tua, yang ringan tangan dan terus menolong Wendy setiap kali bisa, berbanding terbalik dengan Andy, karyawan toko yang bersikap sok pahlawan dengan mencari kesalahan Wendy, begitu pula penjaga penjara anjing yang laksana karyawan yang hanya menunaikan tugasnya. Tokoh kedua yang menjadi tokoh baik kepada karakter utama adalah si mekanik pemilik bengkel, dia bersedia memotong biaya perbaikan mobil dan menambah uang untuk Wendy.

Dalam pengambilan gambar-gambarnya saya senang ketika Wendy diperlihatkan akan kehidupan burung yang terbang di angkasa beramai ramai dengan bebas, tanpa masalah, dan dengan mudah bepergian kemanapun mereka suka. Ini seolah ironis dengan kehidupan Wendy yang begitu kesepian serta penuh dengan masalah dan kesulitan. Penampilan si Lucy, anjingnya juga lumayan baik, meski tidak sebaik Hachiko dalam Hachi: A Dog’s Tale (2009) yang mampu membuat kita nangis.

Hidup di kota urban saat ini laksana hidup dalam dunia yang menjunjung tinggi akan harta dan kekayaan, semuanya demi uang, tiada lagi kekeluargaan dan persahabatan. Nilai nilai kemanusiaan sudah punah, meski ditempat yang “katanya” menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kesetaraan.

Wendy and Lucy (31)

F*ck off from me & My Husband (The Joker)

#Yang ini sindiran kepada Paparazi yang gila-gilaan mengekspos kehidupan para selebritis sebagai konsumsi publik, sangat tidak manusiawi !

SATRIA HARYANTO’S MOVIE RATING

8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s