Scenic Route (2013), Test Kejiwaan di Tengah Gurun Gersang

MOVIE DETAIL

Scenic_Route -  (4)

Director: Kevin Goetz, Michael Goetz. Writers: Kyle Killen  .

Stars: Josh Duhamel, Dan Fogler.

Durasi: 82 minutes . Year: 2013.

“There is no turning back”

OSCAR 

– No Oscar.

PLOT

Mitchell(Josh Duhamel), adalah seorang pria tampan usia 30-an yang tega meninggalkan impiannya untuk menjadi musisi/ penyanyi rock demi karirnya sebagai pegawai kantor biasa, sedang Carter(Dan Fogler) adalah pria gemuk usia 30-an, typical lazyman serta pengangguran yang menghabiskan hidupnya untuk menekuni kesenangannya untuk menulis novel. Keduanya adalah sahabat karib yang hubungannya panas dingin.

Diceritakan keduanya mengarungi perjalanan menggunakan mobil berdua melewati padang pasir di Amerika. Di tengah jalan mobil pickup yang disetiri oleh Carter tiba-tiba mati, Carter segera turun dan mengecek mobilnya. Mitchell yang ketiduran sepanjang perjalanan akhirnya juga terbangun. Sempat kesal dan kebingungan keduanya kemudian menunggu kedatangan orang lewat. Untunglah tiba tiba ada pengendara mobil lewat. Mitchell gembira ria karena merasa akan mendapat tumpangan setidaknya sampai ke kota. Tapi tiba tiba Carter mencegah Mitchell yang akan numpang mobil tersebut.

Carter menjelaskan bahwa dia sengaja mengerjai Mitchell, dengan mencopot salah satu kabel di mobil hingga mobil tidak dapat distarter. Mitchell kesal dengan lelucon tidak lucu ini. Carter beralasan bahwa dirinya sengaja melakukannya untuk menarik perhatian Mitchell dan bisa mengajaknya ngobrol. Sebab sepanjang perjalanan keduanya memang tidak pernah ngobrol. Carter merasa idenya cemerlang. Mitchell segera meminta Carter untuk memasang kabelnya kembali dan mencoba menghidupkan mobilnya. Setelah dicoba segalanya berjalan dengan baik. Mobil kembali dapat distarter. Si pengendara mobil yang sempat mereka cegat akhirnya mereka perbolehkan pergi.

Tak dinyana setelah itu terjadi perdebatan akan kelakukan Carter tersebut. Lebih parah lagi karena setelah dicoba dihidupkan kembali mobilnya enggan hidup. Malangnya baik Mitchell maupun Carter tidak punya pengalaman mengutak atik mobil.Keduanya pun segera saling menyalahkan atas kondisi yang terjadi ini. Setelah mencari tahu dari peta yang mereka bawa ternyata jarak untuk kembali ke kota terakhir adalah amat jauh, begitu pula untuk menuju kota yang mereka ingin tuju, jaraknya lebih jauh lagi. Alhasil keduanya terpaksa menunggu adanya orang lewat lagi. Lebih gawat lagi karena di tempat tersebut tidak ada air, makanan dan sinyal HP.

Diselingi pertengkaran pertengkaran akhirnya terungkaplah fakta menarik akan keduanya. Mithcell mengakui bahwa dirinya sudah yakin telah mengambil keputusan keliru ketika meninggalkan cita-cita nya untuk menjadi penyanyi band rock. Selain itu Mitchell juga mengaku bahwa hubungannya dengan sang istri, Joanne sudah tidak harmonis lagi. Bahkan Mitchell mengaku sudah bosan berhubungan seks dengan Joanne. Mitchell mengaku bahwa dirinya sempat berselingkuh dengan cewek berusia 21 tahun saat mengikuti seminar dalam pekerjaannya. Selain itu Mitchell juga mengaku bahwa dari dulu dia sempat mengidamkan memiliki potongan rambut mowhawk seperti Travis Bickle, di film Taxi Driver(1979), namun urung kesampaian. Sementara itu Carter juga mengaku bahwa dirinya tidak cocok dengan Joanne. Dia juga merasa kurang yakin dengan cerita novel yang ditulisnya. Kehidupan pribadi, keluh kesah dan kegusaran hati kedua insan tersebut akhirnya terbongkar dalam percakapan-percakapan mereka.

Carter kemudian mengusulkan agar Mitchell memotong rambutnya seperti rambut Travis Bickle. Selain karena ini adalah di tengah gurun pasir yang mana membuat tidak ada siapapun akan peduli, juga karena siapa tahu besok keduanya sudah mati sehingga ide untuk rambut mohawk tersebut pantas dicoba. Pada awalnya Mitchell menolak mentah mentah, karena merasa bahwa ide tersebut konyol dan tidak masuk akal, bahkan dirinya pasti dicap orang gila. Tapi ketika Carter menunjukkan bahwa dia membawa alat serbaguna yang bisa digunakan untuk mencukur pula, Mitchell terpaksa menyerah. Mitchell bersedia untuk dicukur Mohawk.

Esok harinya keduanya terpaksa minum dari air yang ada di mobil, air yang sebenarnya berfungsi untuk mencuci kaca bagian depan mobil terpaksa mereka minum karena kehabisan air dan bekal. Hingga pada tengah hari mereka dilewati seorang ibu tua dengan mobil nya. Carter sempat menghentikan mobil tersebut dan memintanya untuk memberi tumpangan. Si ibu tua agak ragu karena melihat Mitchell yang berpotongan rambut aneh dan bekas bekas luka serta darah yang ada di mukanya (karena pertengkarannya dengan Carter, Mitchell hingga berdarah darah mukanya dan hidungnya patah), karena tidak sabar Mitchell justru memaksa masuk ke mobil. Si ibu tua tersebut lantas segera tancap gas karena mengira mereka adalah para penjahat. Carter kesal dan memarahi Mitchell yang tidak sabaran sehingga membuat ibu tua tersebut mengambil langkah seribu.

Ketika hari menjelang senja keduanya terlibat pertengkaran keras, pukulan Mitchell dengan Crutch-nya (catatan: salah satu kaki Mitchell dari awal film dikabarkan sedang sakit hingga memaksanya menggunakan Crutch), membuat carter pingsan. Mitchell yang panik mengira bahwa Carter tewas. Dia segera menyiapkan kuburan di dekat tempat tersebut. Setelah siap Mitchell segera menarik Carter ke lubang yang disiapkannya sebagai kuburan Carter. Namun Carter justru malah terbangun, saat sadar dia malah marah marah karena mengira bahwa Mitchell sudah berusaha menguburnya hidup hidup.

Carter ngambek dan segera pergi. Tapi di tengah malam dirinya justru kembali ke mobil karena tidak tahu harus kemana. Esok harinya setelah berusaha mencari bantuan tapi gagal, Mitchell dan Carter mencoba untuk melakukan perjalanan yang memungkinkan mereka mendapat bantuan. Mitchell menghitung bahwa jika mereka terus berjalan dengan keadaan seperti itu mereka setidaknya dalam satu hari bisa mendapatkan pertolongan.

Nasib baik seperti menaungi mereka ketika mereka menemukan adanya tiang listrik yang menuju suatu tempat. Mereka mengira bahwa kabel kabel di tiang tersebut pastinya menuju ke suatu pemukiman/ kota. Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya mereka menemukan suatu rumah yang sudah ditinggal pemiliknya, di sana mereka mendapatkan air dari tampungan air yang ada di tempat tersebut.

Tiba tiba HP dari Mitchell berbunyi, Mitchell segera berinisiatif untuk menelepon ambulans. Cerita berlanjut bahwa Mitchell dan Carter selamat dari tempat tersebut dan kembali ke kehidupan mereka sebelumnya. Mitchell juga keluar dari pekerjaan lamanya untuk menekuni passionnya sebagai penyanyi rock band. Sedangkan Carter kembali menulis novelnya dan menyelesaikan tulisannya. Bahkan Carter sekarang sudah tinggal bersama Mithcell. Sedang Mitchell kembali ke keluarganya dan mulai harmonis dengan sang istri dan anak semata wayangnya. Mitchell dan Joanne kemudian berinisiatif untuk pergi mengelilingi dunia dan mencari kesegaran dalam hubungan suami istri mereka, sementara Carter tinggal di rumah mereka. Hingga suatu malam Mitchell mengganggu Carter dengan mengatakan bahwa dirinya khawatir bahwa kehidupannya yang sempurna pasca kejadian di tengah gurun yang mereka lalui berdua adalah hanya imajinasi mereka saja. Bahwa ternyata mereka berdua tidak pernah keluar dari tempat mengenaskan tersebut dan mati di sana.

Scenic_Route -  (1)

Scenic_Route -  (3)

Scenic_Route -  (1)

Scenic_Route -  (2)

Scenic_Route -  (5)

Scenic_Route -  (6)

LIFE LESSONS

– Setiap manusia memerlukan sahabat, seseorang yang mengerti kita luar dalam, tempat berbagi kesenangan, kesedihan dan kegilaan.

DID YOU KNOW?

Film ini adalah film perdana dari Kevin Goetz & Michael Goetz, sebelumya keduanya sempat membuat film pendek berjudul Mass Transit (1998).

THE INTERVIEW

PARENTAL GUIDE FOR THIS MOVIE

Sex scene: Yes, not explicit. Gay/ Lesbian: No. Violence Scene: Yes. Smoking Scene: No. Drugs Scene: No. Alcohol Drinking: Yes . Profanity: No . Gore Scene: No.

OVERALL: 15+(remaja & dewasa)

MY OPINION

Scenic_Route -  (9)

Travis Bickle dalam Taxi Driver(1979)

Perjalanan panjang dengan medan berat & terperangkap di gurun panas antah berantah akan mengetes kejiwaan kedua tokoh, Mitchell & Carter. Secara psikologis kedua tokoh diperas habis. Gurun pasir yang gersang menjadi saksi akan kegilaan mereka berdua, menjadi saksi bisu atas pengakuan dosa yang disampaikan Mithcell dan kebodohan Carter.

Josh Duhamel telah membuktikan kepada dunia bahwa dirinya tidaklah hanya bermodal tampang ganteng untuk tenar. Dia membuktikan bahwa dirinya memang memiliki talenta. Sedang untuk Dan Fogler, entah kenapa saya selalu mengingatkan pada Zach Galifianakis/ Alan dalam triologi The Hangover (2009)(selain karena rambut ikal & brewok penganggurannya, juga karena kesintingannya dan kedunguannya), juga berhasil menjalankan perannya dengan baik. Skenario ditulis cukup rapi serta enak diikuti, hanya ketegangan entah mengapa intensitasnya kurang menurut saya, begitu pula ending yang ambigu, entah mengapa membuat beberapa kalangan berbeda pendapat mengenai hal ini, tapi menurut saya ini tidaklah mengapa. Kadang suatu film memang menghasilkan kesan yang berbeda & intepretasi yang berbeda dari setiap orang.

Film ini seakan menjadi pengingat kita akan kehidupan, mengajak kita untuk merenung dan berpikir sejenak. Bahwa hidup kita kadang kita habiskan untuk sesuai yang bukan passion kita, bahwa waktu kita telah kita habiskan bukan untuk sesuai yang kita inginkan melainkan karena tuntutan banyak pihak, bahwa kehidupan kita kadang telah memenjara kita, tidak secara fisik, tapi secara psikologis sehingga kita sulit berkembang. Kadang kita perlu dihadapkan pada medan berat tanpa persiapan dan rencana hingga kita menyadari potensi diri kita sebenarnya, menyadari posisi kita saat ini, menyadari impian impian apa yang sebenarnya kita perlu perjuangkan, bukan yang orang lain ingin kita perjuangkan.

SATRIA HARYANTO’S MOVIE RATING

7.5

Wendy and Lucy (2008), Sindiran Terhadap Kaum Urban Amerika Masa Kini

MOVIE DETAIL

Wendy and Lucy (6)

On the long road, friendship is everything.

Director: Kelly Reichardt.Writers: Jonathan Raymond & Kelly Reichardt .

Stars: Michelle Williams, Lucy.Durasi: 80 minutes .Year: 2008.

OSCAR 

– No Oscar.

PLOT

Apa hal yang paling berharga dalam hidupmu? bagi pesepakbola pastinya kaki mereka, bagi pebisnis, bisnis mereka, bagi banyak orang jawabannya pasti beragam, seperti orangtua, keluarga, uang, pekerjaan, teman, pasangan dan seterusnya. Tapi bagi seorang Wendy Carroll(Michelle Williams) hal yang paling berharga baginya adalah anjingnya(Lucy), baginya Lucy adalah lebih dari sekadar anjing biasa. Lucy adalah teman berbagi suka dan duka, serta mencurahkan seluruh kasih sayangnya.

Film ini adalah sindiran bagi kaum urban di Amerika khususnya dan di seluruh kota di dunia pada umumnya. Ketika kehidupan hedonis serta nilai-nilai luhur telah lenyap dan hampir punah. Nilai akan toleransi, kasih sayang, saling menhargai, saling menolong, kejujuran, kebersamaan, kekeluargaan telah hampir punah saat ini. Sudah bukan hal aneh lagi jika kakak-adik, anak-orangtua saling jauh. Bahkan kasus heboh terakhir di negeri tercinta ini adalah seorang anak bahkan tega untuk menuntut sang ibu atas permasalahan harta hingga ke meja hijau. Ada lagi kisah seorang nenek yang dipenjarakan dan diputus bersalah hanya karena memungut kayu kecil.

Okelah, sekarang kita kembali fokus ke film ini, Wendy, adalah gadis yang berencana pergi dari Indiana, AS ke Alaska(sekitar 5.000KM sekedar perbandingan, Robyn Davidson menempuh +/- 2.700 KM) dari tempat tinggalnya untuk bermaksud mendapatkan penghidupan yang lebih baik di sana.Sebab dia mendengar bahwa di sana ada lowongan pekerjaan di tempat pengalengan ikan, Wendy berharap mendapatkan pekerjaan tersebut.

Wendy ditemani Lucy pergi menggunakan mobil Toyota tuanya. Dengan dana yang serba terbatas, Wendy harus pandai pandai untuk berhemat dalam segala pengeluaran.

Segalanya berjalan lancar hingga Wendy tiba di Oregon, AS. Kejadian bermula saat pagi hari dia diminta menyingkir oleh seorang petugas parkir tua/ sekuriti (Walter Dalton). Wendy dirasa sudah parkir di tempat yang salah. Wendy yang baru saja terbangun seolah memulai hari dengan cara yang sangat buruk. Permasalahan menjadi sedikit lebih serius ketika mobil tua Wendy tidak dapat menyala. Terpaksa Wendy dan pria tua tersebut mendorong mobil tersebut hingga cukup jauh dari tempat yang dilarang untuk parkir.

You can’t get a address without an address. You can’t get a job without a job.

(Sekuriti Tua)

Merasa perlu untuk membeli makanan anjing, Wendy mencoba untuk mencari kaleng bekas dan menjualnya ke tempat penjualan kaleng bekas. Sayang seribu sayang, Wendy mendapati tempat tersebut antriannya penuh. Wendy yang hanya memiliki sejumlah kecil kaleng bekas merasa hanya buang buang waktu menunggu antrian. Salah seorang pria cacat di tempat tersebut yang juga sedang mengantri menawarkan untuk Wendy menitipkan kalengnya saja padanya, tapi Wendy justru memilih untuk memberikan cuma cuma kaleng-kalengnya pada pria tersebut.

Wendy kemudian segera menuju ke Toko untuk mencari makanan bagi Lucy. Sementara Lucy diikat di depan toko. Wendy yang memang tidak membawa banyak uang akhirnya memutuskan untuk mengutil barang di toko tersebut. Saat akan keluar toko, dia ditangkap salah seorang petugas toko, Andy(John Robinson). Andy langsung membawa Wendy kepada atasannya, Mr. Hunt (John Breen). Ketika diinterogasi, Wendy mengatakan bahwa dirinya tidak mencuri makanan anjing tersebut, dia hanya mau keluar sebentar untuk mengecek Lucy. Tapi Andy bersikeras bahwa Wendy harus dihukum sesuai peraturan yang berlaku. Alhasil sang atasan terpaksa untuk menegakkan aturan. Wendy dibawa ke pihak yang berwajib, meninggalkan Lucy sendirian di depan toko.

Karena kasus itu Wendy terpaksa harus menghabiskan setengah harinya di kantor kepolisian. Dia bahkan terpaksa harus membuka celengannya 🙂 untuk membayar jaminan supaya bisa lolos dari jeratan hukum. Alhasil Wendy kembali dalam keadaan capek, habis uang, tapi satu hal yang ada di dalam pikirannya adalah keadaan Lucy.

Benar saja , sekembalinya dari kantor polisi, Lucy menghilang. Wendy berputar putar untuk mencari Lucy namun usahanya nihil tanpa hasil. Termasuk ketika menanyai kedua wanita penjaga toko, keduanya justru memberikan informasi yang simpang siur akan keadaan Wendy saat menghilang.

Wendy yang cepat berkawan dengan petugas sekuriti tua di awal film segera menanyakan dimana dia dapat menemukan tempat penjara anjing(Pound) di daerah situ. Si sekuriti tua segera menunjukkan tempat tersebut. Tapi berhubung hari sudah gelap Wendy disarankan untuk bermalam di hotel dan kembali ke sana pada pagi harinya. Wendy yang kehabisan uang, memutuskan untuk tidur di dalam mobilnya malam itu.

Pagi harinya dia mendatangi salah satu bengkel di ujung jalan, di sana dia mendapati kenyataan bahwa mobil tuanya sudah rusak parah dan biaya perbaikan sangat besar. Wendy memutuskan untuk menjual mobil tersebut untuk uang seadanya.

Perjalanan selanjutnya adalah ke tempat penjara anjing. Setelah melakukan pengecekan di data anjing dan melihat di dalam penjara, Wendy kecewa berat karena dia tidak mendapati Lucy di sana. Wendy kemudian meminta kepada pihak penjara anjing untuk terus berusaha.

Pencarian Wendy akan Lucy terus berlanjut, namun tiada hasil. Wendy memutuskan menelepon kakaknya, Deb(Deirdre O’Connell)yang ada di luar kota. Ternyata sambutan dari kakaknya dan suaminya tidak terlalu positif, kakaknya justru beranggapan bahwa Wendy menelepon karena ingin menyusahkan mereka, padahal Wendy hanya perlu teman ngobrol dan berkeluh kesah.

Wendy lalu kembali ke tempat parkir dan meminjam telepon si sekuriti tua untuk menelepon tempat penjara anjing, dengan dugaan jika Lucy sudah ditemukan, ternyata hasilnya negatif.

Malam itu Wendy terpaksa harus bermalam di tengah hutan karena mobilnya sudah dijual di bengkel. Kejadian menegangkan terjadi ketika Wendy yang sendirian tengah tidur di hutan didatangi seorang pria gelandangan yang mengambil barangnya. Wendy ketakutan setengah mati dan segera melarikan diri ke pom bensin. Di sana dia menenangkan diri.

Esok paginya dia kembali meminjam handphone si sekuriti tua untuk menanyakan kabar Lucy, ternyata Lucy sudah ditemukan. Wendy segera bergegas ke bengkel mobil untuk meminta uang penjualan mobilnya. Kemudian dia pergi ke penjara anjing untuk menanyakan Lucy. Lucy ternyata sudah diketahui dibawa pergi oleh seseorang. Wendy segera bersiap untuk menuju alamat orang tersebut.

Sebelumnya dia pergi ke tempat parkir untuk menemui si sekuriti tua untuk menyampaikan terima kasih dan berpamitan. Si sekuriti tua yang memang hari tersebut tidak bekerja, datang bersama istrinya dengan mobil, sementara istrinya menunggu di dalam mobil, si sekuriti tua menemui Wendy. Wendy diberi uang secukupnya untuk biaya perjalanan, kemudian keduanya segera berpisah.

Alangkah bahagianya Wendy ketika bertemu kembali dengan Lucy di rumah orang yang disebutkan tadi. Keceriaan jelas terpancar dalam wajah Wendy. Tapi sayang sebab Lucy ada di balik kerangkeng. Untuk menebus Lucy, Wendy terpaksa harus melanjutkan perjalanannya sendirian dahulu untuk kemudian mencari uang dan menebus Lucy dari pria yang menahannya.

Wendy and Lucy (1)

Wendy and Lucy (2)

Wendy and Lucy (4)

Wendy and Lucy (8)

Wendy and Lucy (10)

Wendy and Lucy (11)

Wendy and Lucy (13)

Wendy and Lucy (14)

Wendy and Lucy (15)

Wendy and Lucy (17)

Wendy and Lucy (18)

Wendy and Lucy (19)

Wendy and Lucy (20)

Wendy and Lucy (21)

Wendy and Lucy (22)

Wendy and Lucy (23)

Wendy and Lucy (24)

Wendy and Lucy (26)

Wendy and Lucy (28)

Wendy and Lucy (30)

LIFE LESSONS

If you need a relationship, get a dog!

(November Man(2014- Pierce Brosnan)

DID YOU KNOW?

Wendy and Lucy (29)

No Doubt 🙂

 – Michelle Williams “terlalu cantik” untuk memerankan Wendy, hingga dirinya perlu untuk sedikit tampil berantakan demi peran tersebut. Kabarnya Nona Williams terpaksa tidak keramas hingga 2 minggu untuk peran ini ;(.

– Film ini mendapakan ulasan yang positif dari para kritikus di luar sana, bahkan banya kritikus menobatkan film ini dalam list 10 film paling bagus di 2008.

THE INTERVIEW

PARENTAL GUIDE FOR THIS MOVIE

Wendy and Lucy (16)

Sex scene: No. Gay/ Lesbian: No. Violence Scene: No. Smoking Scene: No. Drugs Scene: No. Alcohol Drinking: No. Profanity, ada satu dua umpatan dalam bahasa inggris: No . Gore Scene: No.

OVERALL: 17+(remaja & dewasa)

* Di luar negeri film ini dirating untuk anak anak menonton di bawah panduan orang tua, sebab di dalamnya berisikan scene akan seseorang yang kesepian dan nelangsa, ini dipandang kurang tepat bagi anak anak karena bisa berpengaruh pada cara pandang mereka akan kehidupan pada umumnya.

MY OPINION

Film independent selalu menyajikan sesuatu yang baru, berani dan berbeda. Tentu saja ini karena pengaruh dari pemilik modal, rumah produksi dsb tidak sekuat film komersial, yang lebih mengutamakan fulus daripada sebagai penyampaian ide. Saya jadi ingat ketika Hitchcock dalam Hitchcock(2008) mengatakan bahwa dirinya saat itu sudah jenuh untuk terus mengikuti keinginan pasar/ masyarakat penonton film dan tekanan dari petinggi rumah produksi dalam mengekang ide idenya. Nah ini tidak termasuk film absurd terakhir yang saya tonton, El Topo(1970)/ The Mole karya Alejandro Jodorowsky, film independent ini sungguh absurd dan enek ditonton, kapan-kapan akan saya bahas di posting tersendiri.

Diangkat dari cerita pendek “Train Choir” garapan Jon Raymond, film ini adalah sebuah pertunjukan 80 menit dari seorang Michelle Williams sendirian. Dia berhasil untuk mendalami karakter Wendy yang kesepian serta terasingkan.  Michelle Williams berhasil menghadirkan naik turun emosi Wendy, dari kegirangan, ketakutan, kecemasan, frustasi hingga harapan. Karakter Wendy hampir serupa dengan karakter Robyn Davidson (diperankan oleh aktris kesukaan saya pula, Mia Wasikowska) di film Tracks(2013), yang menembus ganasnya bentangan alam australia hanya bertemankan unta untanya. Namun penampilan Michelle menurutku sedikit di atas Mia Wasikowska.

Durasi film yang sebentar, karakter yang terbatas, cerita yang simple, bahkan nyaris tanpa tambahan sound, namun dengan pesan yang kuat. Film ini adalah kritikan sosial kepada masyarakat urban saat ini, Wendy terlihat sangat terasing di dunianya. Dan ketika ada orang yang hadir dalam kehidupannya mereka seperti lalu saja, bahkan keluarga sekalipun tampak bukan saudara lagi. Begitu pula ketika dihadapkan pada masalah, banyak orang yang tidak peduli, egois pada urusan mereka masing masing, namun adakalanya ada saja orang yang berbuat baik di tengah masyarakat seperti itu, ini digambarkan sesosok sekuriti tua, yang ringan tangan dan terus menolong Wendy setiap kali bisa, berbanding terbalik dengan Andy, karyawan toko yang bersikap sok pahlawan dengan mencari kesalahan Wendy, begitu pula penjaga penjara anjing yang laksana karyawan yang hanya menunaikan tugasnya. Tokoh kedua yang menjadi tokoh baik kepada karakter utama adalah si mekanik pemilik bengkel, dia bersedia memotong biaya perbaikan mobil dan menambah uang untuk Wendy.

Dalam pengambilan gambar-gambarnya saya senang ketika Wendy diperlihatkan akan kehidupan burung yang terbang di angkasa beramai ramai dengan bebas, tanpa masalah, dan dengan mudah bepergian kemanapun mereka suka. Ini seolah ironis dengan kehidupan Wendy yang begitu kesepian serta penuh dengan masalah dan kesulitan. Penampilan si Lucy, anjingnya juga lumayan baik, meski tidak sebaik Hachiko dalam Hachi: A Dog’s Tale (2009) yang mampu membuat kita nangis.

Hidup di kota urban saat ini laksana hidup dalam dunia yang menjunjung tinggi akan harta dan kekayaan, semuanya demi uang, tiada lagi kekeluargaan dan persahabatan. Nilai nilai kemanusiaan sudah punah, meski ditempat yang “katanya” menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kesetaraan.

Wendy and Lucy (31)

F*ck off from me & My Husband (The Joker)

#Yang ini sindiran kepada Paparazi yang gila-gilaan mengekspos kehidupan para selebritis sebagai konsumsi publik, sangat tidak manusiawi !

SATRIA HARYANTO’S MOVIE RATING

8